BAB I
PENDAHULUAN
CT adalah proses berpikir dalam memformulasikan persoalan dan berstrategi dalam menentukan/memilih solusi yang efektif, efisien, optimal untuk dikerjakan oleh agen pemroses informasi (solusi) tersebut. Agen pemroses informasi yang dimaksud adalah manusia atau komputer. Ada tiga hal utama yang terdapat pada definisi CT tersebut, yaitu persoalan, solusi yang efektif, efisien, dan optimal, serta agen pemroses informasi. Komputer dapat ‘berpikir’ dengan menggunakan algoritma dan data. Algoritma adalah serangkaian langkah yang harus diikuti untuk menyelesaikan suatu masalah. Data adalah kumpulan informasi yang dapat digunakan untuk membuat keputusan. Komputer "berpikir" melalui program dan algoritma yang telah diprogramkan oleh manusia. komputer berfungsi dengan cara memproses informasi sesuai dengan instruksi yang telah diberikan kepada peserta didik. Computational thinking (CT) adalah cara berpikir untuk memecahkan masalah dengan menerapkan teknik ilmu komputer. Kemampuan memecahkan masalah ini memungkinkan seseorang untuk menganalisis masalah yang kompleks, memahami apa masalahnya, dan menentukan solusi yang tepat. mengambil mata kuliah ini adalah untuk menambah wawasan agar dapat saya gunakan kelak nantinya sebagai guru dapat digunakan dalam pembelajaran di sekolah dasar
TOPIK 1 EKPLORASI
SEL.09.2-T1-3a.
Eksplorasi Konsep - Lembar Kerja Mahasiswa
1. Sampai
saat ini, Anda sudah mendapatkan contoh-contoh implementasi CT dalam kehidupan
sehari-hari. Dalam contoh-contoh tersebut, dapat dilihat bahwa CT dapat
diterapkan dengan ataupun tanpa menggunakan “komputer”. Tuliskanlah hal atau
persoalan apa yang zaman sekarang tidak memakai “komputer”, TIK, dan robot tapi
membutuhkan CT!
JAWAB:
Persoalan atau masalah yang dapat diimplementasikan
menggunakan konsep Computational Thinking (CT) adalah menyelesaikan persoalan
atau konflik interpersonal peserta didik. Contoh Si Sandi dan Si Azka terlambat
masuk kelas saat istirahat dengan alasan yang berbeda. Sebagai seorang pendidik
menginginkan peserta didik untuk dapat masuk tepat waktu ke kelas sesudah jam
bel istirahat berbunyi.
2. Tuliskan
dan jelaskan minimal satu contoh penerapan untuk masing-masing fondasi CT dalam
kehidupan sehari-hari! Contoh yang Anda berikan dapat mengandung lebih dari
satu fondasi.
JAWAB:
a. Dekomposisi,
pendidik mendapati dua peserta didik yang terlambat masuk kelas saat istirahat.
Pola persamaan berada pada keterlambatan masuk kelas saat jam istirahat sudah
selesai, sedangkan pola perbedaanya terletak pada alasan keterlambatan masuk
kelas saat jam istirahat sudah selesai.
b. Pengenalan
Pola, tahapan yang dilakukan pendidik adalah dengan mengenali atau
mengidentifikasi persamaan dan perbedaan pola persoalan. Contohnya, pendidik
mencari informasi mengenai keterlambatan peserta didik yang berbeda. Contohnya
Si Sandi terlambat karena makanan yang dibeli masih banyak dan ingin
menghabiskanya terlebih dahulu dan Si Azka terlambat karena masih asyik bermain
dengan temanya yang berbeda kelas.
c. Abstraksi,
pendidik mendengarkan penjelasan dari peserta didik mengenai persoalan yang
dihadapi, setelah mendengarkan penjelasan tersebut, pendidik mampu memilah
alasan yang berpotensi lebih akurat. Contohnya pendidik melakukan pendekatan
secara interpersonal kepada peserta didik yang terlambat masuk kelas saat jam
istirahat sudah selesai.
d. Algoritma,
berdasarkan abstraksi tersebut, pendidik mampu memberikan algoritma berupa
tanggapan yang bersifat membangun, nasihat, saran, dan arahan agar menjadi
pribadi yang lebih baik lagi. Contohnya pendidik menyarankan kepada Si Sandi
untuk jajan makanan secukupnya dan Si Azka disarankan untuk ingat jika bermain
harus tahu waktu jika bel sudah berbunyi tandanya sudah masuk kelas.
Ruang kolaborasi
|
Nama/No. Kelompok: |
Kelompok
6 |
|
No. Induk / Nama Mahasiswa
|
1.
23530243/Daifa Faliqulhusna 2.
23530298/Fuad Abdullah 3.
23530287/Fatwatul Ummah 4.
23530452/Siti Rukoiyah Khotimah 2.1 |
|
Hasil Diskusi secara
umum : Berdasarkan hasil diskusi, Computational Thinking merupakan
sebuah proses dalam memformulasikan persoalan dan berstrategi untuk
menentukan proses suatu
masalah dengan efektif, efisien serta menyeluruh, dengan melalui tahapan
Penyelesaiananpenguaraian masalah kompleks (dekomposisi), pengenalan pola,
identifikasi data dan informasi (abstraksi), pengembangan langkah-langkah
(algoritma). |
|
|
Contoh hal atau persoalan zaman sekarang yang tidak memakai
“komputer”, TIK, dan robot tapi membutuhkan CT. 1.
Memasak Mie Instan 2.
Menggunakan Skincare 3.
Mencuci baju 4.
Melipat baju |
|
|
Penerapan fondasi CT
dalam kehidupan sehari-hari. A.
Jawaban yang sudah
tepat 1.
Dekomposisi :
Mengidentiifikasi kesulitas belajar peserta didik. 2.
Pengenalan Pola: Tahapa
napa saja yang perlu dilakukan ketika menggunakan skincare 3.
Abstraksi : Seberapa
banyak bumbu yang harus ditambahkan ketika memasak nasi. 4.
Algoritma : Buku Resep
Masakan. |
|
|
B.
Jawaban yang kurang
tepat 1.
Dekomposisi :
Menentukan langkah -langkah pembuatan jus strawberry. 2.
Pengenalan Pola :
Panduan menulis Karya Ilmiah 3.
Abstraksi : Memilih
bahan untuk pembuatan jurnal. 4.
Algoritma :
Mengidentifikasi persoalan yang dihadapi dalam pembuatan kue |
|
DEMONTRASI TOPIK 1
|
Nama/No. Kelompok: |
Fatwatul Ummah / Kelompok 6 |
|
No. Induk / Nama
Mahasiswa: |
1.
23530243/Daifa Faliqulhusna 2.
23530298/Fuad Abdullah 3.
23530287/Fatwatul Ummah 4.
23530452/Siti Rukoiyah Khotimah |
|
Feedback/pertanyaan: |
Tanggapan/solusi: |
|
Apakah Computational Thinking dapat diterapkan pada peserta
didik sekolah dasar? |
Computational Thinking dapat diterapkan pada pemmikiran peserta
didik sekolah dasar, karena pada dasarnya computational thinking memiliki
cara berpikir yang terstruktur dan logis untuk memecahkan masalah. Hal ini
apabila diterapkan atau di ajarkan untuk peserta didik sekolah dasar dapat
memiliki dampak baik. |
|
Adakah cara menerapkan
Computational Thinking untuk peserta didik sekolah dasar? |
Computational Thinking dapat diterapkan pada peserta didik
sekolah dasar dengan cara : ·
Pemecahan masalah :
Peserta didik dapat belajar memecahkan masalah dengan pendekatan yang
terstruktur, dapat berupa identifikasi masalah, rancangan Solusi, dan menguji
Solusi tersebut, misalnya penerapannya peserta didik dapat menyelesaikan
teka-teki matematika atau menemukan cara untuk mengatur mainan di ruang
kelas. ·
Pemodelan : Peserta
didik dapat mempelajari cara membuat model dari situasi atau masalah yang
diberikan. Misalnya saja, peserta didik memodelkan jalur perjalanan dari
rumah ke sekolah. ·
Algoritma : Peserta
didik dapat belajar tentang urutan atau langkah-langkah yang terstruktur
untuk menyelesaikan masalah atau mencapai tujuan tertentu. Misalnya merekapa
dapat menerapkan kehidupan sehari-hari seperti merapikan meja atau menyusun
buku-buku. Kreativitas : Peserta didik dapat belajar untuk berpikir secara
kreatif dlam menemukan Solusi untuk masalah -masalah yang kompleks. |
TOPIK 1 KONEKSI ANTAR MATERI
SEL.09.2-T1-7.
Koneksi Antar Materi
1. Tuliskan
contoh-contoh hubungan CT dengan kehidupan sehari-hari Anda!
JAWAB:
Berikut adalah contoh-contoh hubungan Computational
Thinking (CT) dengan kehidupan sehari-hari:
a. Memasak
Bubur Ayam: Dalam memasak, CT dapat diterapkan melalui pemecahan masalah,
penggunaan langkah-langkah berurutan, dan pemikiran algoritma untuk mencapai
hasil akhir yang diinginkan
b. Mencuci
Pakaian Putih: Dalam mencuci pakaian putih, CT diperlukan untuk memecahkan
masalah seperti mengatasi noda, pemilihan deterjen, dan langkah-langkah proses
pencucian secara sistematis
c. Membuat
seblak: Dalam memasak seblak, CT dapat diterapkan melalui pemikiran algoritma
dalam menentukan langkah-langkah memasak yang tepat untuk mencapai tekstur dan
rasa yang diinginkan
Melalui
contoh-contoh di atas, dapat dilihat bagaimana CT dapat diterapkan dalam
kegiatan sehari-hari seperti memasak dan membersihkan pakaian. Hal ini
menunjukkan relevansi CT dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan
dalam konteks kehidupan sehari-hari
2. Menurut
pendapat Anda, dapatkah CT diterapkan pada mata pelajaran yang akan Anda ajar?
Penerapan CT dapat dilakukan baik pada metode atau bentuk pengajaran,
soal-soal, atau aktivitas lainnya di dalam kelas
JAWAB:
Penerapan Computational Thinking (CT)
dapat dilakukan dalam berbagai mata pelajaran. Berikut adalah contoh-contoh
penerapan CT dalam kehidupan sehari-hari dan mata pelajaran:
a. Pelajaran IPA: CT dapat diterapkan dalam
memecahkan masalah ilmiah, mengidentifikasi pola-pola alam, dan meningkatkan
berfikir kritis peserta didik dengan model pembelajaran yang sesuai
b. Mata
Pelajaran Matematika: Dalam matematika, CT dapat diterapkan dalam menyelesaikan
persoalan sehari-hari seperti menentukan jumlah uang yang harus ditabung,
membeli franchise, atau memecahkan persoalan terkait satuan panjang dan berat
c. Mata
Pelajaran Bahasa Indonesia: CT dapat diterapkan dalam memecahkan persoalan
terkait pemilihan kata, penyusunan kalimat, dan analisis teks
Dengan demikian, CT dapat diterapkan dalam berbagai mata pelajaran melalui metode pembelajaran, soal-soal, dan aktivitas lainnya di dalam kelas. Hal ini menunjukkan relevansi CT dalam konteks pendidikan lintas mata pelajaran
TOPIK 1 AKSI NYATA
SEL.09.2-T1-8.
Aksi Nyata
1. Apa
harapan/target Anda dalam mengikuti mata kuliah ini?
JAWAB:
Harapan saya setekah mengikuti mata kuliah CT adalah
dapat memahami esensi CT dan cara mengintregrasikannya ke dalam materi sekolah
dasar dan mengimplementasikan kepada peserta didik
2. Pemahaman
baru apa yang Anda dapatkan setelah mempelajari CT?
JAWAB:
Setelah mempelajari Computational Thinking (CT),
seseorang dapat memperoleh pemahaman baru tentang cara berpikir manusia, bukan
komputer, serta pentingnya CT sebagai salah satu teknik penyelesaian masalah
dalam kehidupan sehari-hari. CT juga melatih untuk berpikir secara terstruktur,
kritis, dan logis, dan dapat diterapkan dalam berbagai konteks, termasuk
pembelajaran mtk. Banyak orang merasa bahwa CT perlu diajarkan kepada peserta
didik karena menjadi keterampilan penting di masa sekarang. Beberapa potensi
kendala yang mungkin dihadapi adalah mengaplikasikan pola pikir CT pada
pembelajaran MTK, namun hal ini dapat diatasi melalui pengenalan pola,
abstraksi, dan algoritma. Keberadaan pola pikir computational thinking dalam
kehidupan sehari-hari diakui sebagai suatu hal yang sangat dibutuhkan.
3. Bagaimana
pendapat Anda mengenai keberadaan CT dalam kehidupan Anda?
JAWAB:
Pendapat mengenai keberadaan Computational Thinking
(CT) dalam kehidupan seseorang dapat bervariasi. Beberapa orang menganggap CT
sangat penting karena melatih berpikir secara terstruktur, kritis, dan logis,
serta membantu dalam menyelesaikan masalah sehari-hari secara efisien dan
optimal. Mereka juga menyadari bahwa CT bukan hanya terkait dengan pemrograman
komputer, tetapi dapat diterapkan dalam berbagai konteks dan oleh siapa pun, di
mana pun, dan kapan pun. Beberapa orang juga merasa senang dan terbantu setelah
mempelajari CT, karena hal itu meningkatkan kemampuan mereka dalam memecahkan
masalah
4. Bagaimana
perasaan Anda setelah belajar mengenai CT?
JAWAB:
Setelah belajar mengenai CT, saya sebagai calon guru
merasa bahwa CT perlu diajarkan kepada peserta didik. CT sebagai salah satu
teknik penyelesaian masalahmenjadi sangat penting di masa sekarang untuk
menyiapkan generasi penerus yang berdaya saing di era ekonomi digital ini.
Kecakapan ini mengajarkan siswa bagaimana berpikir seperti cara ilmuwan
komputer berpikir untuk menyelesaikan permasalahan di dunia nyata
5. Apa
potensi kendala yang mungkin akan Anda alami selama mengikuti kuliah ini? Jika
ada, tindakan apa yang akan Anda lakukan untuk mengantisipasinya?
JAWAB:
Awalnya saya berpikir bahwa CT adalah sebuah ilmu
komputer dimana kita harus membuat rumus-rumus pemrograman (Seperti pada mata
kuliah Pemrograman komputer). Akan tetapi setelah membaca berbagai referensi
baik dari buku maupun jurnal, saya dapat mengetahui bahwa CT adalah sebuah
pendekatan pembelajaran yang mampu melatih kita untuk berpikir secara
terstruktut, kritis dan logis.

Komentar
Posting Komentar