BAB I
PENDAHULUAN
Computational thinking adalah pendekatan
sistematis dalam memecahkan masalah yang terinspirasi oleh cara komputer
memproses informasi. Ini melibatkan pemikiran logis, analitis, dan kreatif
untuk mengurai masalah menjadi langkah-langkah terpisah, mengidentifikasi pola
atau struktur dalam data, dan merancang algoritma yang efisien untuk
menyelesaikan masalah tersebut. Pemikiran komputasional juga melibatkan
kemampuan untuk mengabstraksi informasi, memodelkan masalah, dan menerapkan
solusi yang ditemukan ke berbagai konteks. Lebih dari sekadar pemrograman,
pemikiran komputasional memberdayakan individu untuk mengembangkan keterampilan
pemecahan masalah yang relevan dalam berbagai bidang, dari ilmu komputer hingga
ilmu sosial dan sains.
Saat ini teknologi menjadi pusat dari
hampir setiap aspek kehidupan kita, kemampuan untuk berpikir secara
komputasional tidak lagi menjadi keahlian yang opsional, tetapi menjadi suatu
keharusan. Dari dunia bisnis hingga ilmu pengetahuan, pemikiran komputasional
telah menjadi landasan penting dalam menyelesaikan tantangan kompleks dan
menghasilkan solusi inovatif.
Dalam dunia pendidikan, computational thinking berperan penting karena membantu mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan masa depan yang semakin terdigitalisasi. Dengan mempelajari konsep-konsep pemikiran komputasional, siswa tidak hanya belajar cara memecahkan masalah secara efektif, tetapi juga mengembangkan keterampilan kritis seperti pemikiran logis, analitis, dan kreatif. Ini membantu mereka tidak hanya menjadi konsumen teknologi yang terampil, tetapi juga pencipta dan inovator. Pemikiran komputasional mengintegrasikan pemahaman tentang algoritma, abstraksi, dan representasi data ke dalam kurikulum, memungkinkan siswa untuk memahami dan menghadapi tantangan kompleks dalam berbagai subjek dan konteks. Dengan demikian, pendekatan ini tidak hanya mempersiapkan siswa untuk karir di bidang teknologi, tetapi juga meningkatkan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah dan berpikir kritis di berbagai bidang kehidupan.
BAB II
PEMAHAMAN COMPUTATIONAL THINKING
A. MULAI DARI
DIRI
1. Nama/Jenjang/Mapel yang akan diajar
Jawaban:
Dina Septiana /
Sekolah Dasar/ Matematika
2.
Saat ini, komputer cukup banyak digunakan untuk
membantu manusia dalam melakukan berbagai hal, misalnya belanja online (daring)
atau mencari jalur untuk menuju suatu tempat. Menurut Anda, bagaimana cara
komputer ‘berpikir’ sehingga dapat membantu manusia melakukan berbagai
kegiatan?
Jawaban:
Cara komputer
berpikir sehingga dapat membantu manusia melakukan berbagai kegiatan yaitu
melalui bahasa pemograman dan algoritma. Program yang baik dan algoritma yang
efisien memungkinkan komputer untuk mengakses tugas dengan cepat dan akurat.
Sistem kecerdasan buatan memungkinkan komputer untuk mempelajari pola-pola
data, membantu prediksi, dan mengambil keputusan tanpa campur tangan manusia.
Mesin pembelajaran dan algoritma cerdas memungkinkan komputer untuk
meningkatkan kinerjanya seiring waktu.
3.
Apakah Anda pernah mendengar/mengetahui tentang
CT? Jika pernah, uraikan dengan ringkas apa yang Anda ketahui tentang CT!
Jawaban:
Saya pernah
mendengar tentang CT. CT merupakan kemampuan dasar cara berpikir sistematis dan
menemukan solusi yang efektif, efisien, dan optimal saat menghadapi persoalan
sederhana maupun kompleks.
4.
Jika belum pernah mendengar tentang CT dan saat
ini Anda mengambil mata kuliah ini, apa motivasi Anda dalam mengambil mata
kuliah ini?
Jawaban:
Motivasi saya
mengikuti mata kuliah ini adalah untuk mendalami pemahaman tentang CT sehingga
dapat mengimplementasikannya pada muatan pelajaran yang akan saya ajarkan
nantinya di jenjang Sekolah Dasar.
B. EKSPLORASI
KONSEP
1. Sampai saat ini, Anda sudah
mendapatkan contoh-contoh implementasi CT dalam kehidupan sehari-hari. Dalam
contoh-contoh tersebut, dapat dilihat bahwa CT dapat diterapkan dengan ataupun
tanpa menggunakan “komputer”. Tuliskanlah hal atau persoalan apa yang zaman
sekarang tidak memakai “komputer”, TIK, dan robot tapi membutuhkan CT!
Jawaban :
Meskipun zaman sekarang sangat tergantung pada teknologi
informasi dan komunikasi (TIK), serta penggunaan komputer dan robot yang
semakin meluas, masih ada beberapa situasi atau persoalan dalam kehidupan
sehari-hari yang membutuhkan Critical Thinking (CT) tanpa melibatkan komputer,
TIK, atau robot. Beberapa contoh termasuk:
a.
Situasi
konflik atau perbedaan pendapat antara individu tidak selalu diselesaikan
dengan teknologi. Pemecahan masalah antarpersonal seringkali memerlukan CT
dalam berkomunikasi, mendengarkan, dan memahami sudut pandang orang lain tanpa
keterlibatan teknologi.
b.
Ketika
menghadapi dilema etis atau keputusan moral, individu memerlukan CT untuk
mempertimbangkan nilai-nilai, dampak, dan konsekuensi dari pilihan mereka.
Keputusan ini tidak selalu dapat dikerjakan oleh komputer atau robot.
c.
Meskipun
teknologi dapat memberikan alat untuk meningkatkan kreativitas, proses kreatif
dan inovatif itu sendiri sering kali berasal dari pemikiran kritis manusia.
Memikirkan solusi baru, mengidentifikasi peluang, dan mengembangkan ide-ide
kreatif adalah aspek dari CT yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh mesin.
d.
Kepemimpinan
yang efektif dan manajemen tim memerlukan kemampuan untuk memahami orang,
memotivasi mereka, dan membuat keputusan yang bijaksana. Aspek-aspek ini
membutuhkan CT yang lebih terfokus pada aspek manusiawi dan sosial.
e.
Beberapa
masalah yang dihadapi individu tidak selalu memiliki solusi yang telah
diprogram atau diprediksi sebelumnya oleh teknologi. Pemecahan masalah ini
memerlukan CT untuk menghadapi kompleksitas dan ketidakpastian.
2. Tuliskan dan jelaskan minimal satu contoh
penerapan untuk masing-masing fondasi CT dalam kehidupan sehari-hari! Contoh
yang Anda berikan dapat mengandung lebih dari satu fondasi.
Jawaban :
Tentu, berikut adalah contoh penerapan Fondasi
Critical Thinking (CT) dalam kehidupan sehari-hari:
a. Memilih Makanan Sehat di Restoran
1)
Dekomposisi: Menguraikan proses pemilihan makanan di
restoran, termasuk mempertimbangkan menu, informasi nutrisi, dan preferensi
pribadi.
2)
Penganalan
Pola:
Mengidentifikasi pola makanan sehat, seperti memilih makanan yang kaya nutrisi,
rendah lemak, dan tinggi serat. Mengetahui cara membaca label nutrisi pada
menu.
3)
Abstraksi: Memahami kebutuhan nutrisi pribadi dan
merinci jenis makanan yang dibutuhkan. Misalnya, menyadari bahwa tubuh
memerlukan asupan protein yang cukup atau mengurangi konsumsi gula.
4)
Algoritma: Menentukan langkah-langkah dalam proses
pemilihan makanan, seperti melihat menu secara menyeluruh, mempertimbangkan
variasi makanan, dan mencari opsi yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi.
b. Contoh: Pemilihan Peralatan Elektronik
1)
Dekomposisi: Menguraikan proses pemilihan peralatan
elektronik, seperti smartphone atau laptop. Melibatkan pengecekan spesifikasi,
fitur, dan harga.
2)
Penganalan
Pola:
Mengidentifikasi pola trend teknologi, termasuk perkembangan terbaru, inovasi,
dan fitur yang menjadi standar. Mengetahui bagaimana brand tertentu sering
diakui karena kualitasnya.
3)
Abstraksi: Memahami kebutuhan pribadi terkait peralatan
elektronik, seperti kebutuhan untuk bekerja, hobi, atau aktivitas sehari-hari.
Menilai pentingnya fitur tertentu sesuai dengan penggunaan yang diinginkan.
4)
Algoritma: Membuat langkah-langkah dalam proses
pemilihan, mulai dari penelitian online, membaca ulasan, membandingkan
spesifikasi, hingga mempertimbangkan budget.
C. RUANG
KOLABORASI
|
Kelas PGSD H Nama Kelompok /NPM : 1. Andri Hermawan (23530210) 2. Dina Septiana (23530265) 3. Ema Tri Rejeki (23530276) 4. Nabila Atika (23530364) 5.
Rini
Maghfiroh (23530419) |
|
Hasil Diskusi Secara Umum : Computational
Thinking adalah sebuah konsep berpikir secara sistematis terhadap suatu
permasalahan yang dapat diselesaikan secara efektif dan efisien. CT membantu
dalam menganalisis masalah kompleks, memahami masalahnya, dan mengembangkan
solusi yang tepat. Teknik ini tidak hanya terkait dengan pemrograman, tetapi
juga digunakan dalam berbagai bidang seperti sains, teknologi, bisnis,
pendidikan, kesehatan, dan ilmu sosial. Terdapat empat keterampilan utama
dalam computational thinking, yaitu decomposition, pattern recognition, abstraction, dan
algorithm. Dengan mempelajari computational thinking, seseorang dapat mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dan mempersiapkan diri untuk tantangan era digital. |
|
Contoh hal atau
persoalan zaman sekarang yang tidak memakai “computer”, TIK, dan robot tapi membutuhkan CT 1. Membuat keputusan 2. Mengelola keuangan 3. Merencanakan perjalanan 4. Mengerjakan latihan
soal 5. Memasak mie
instan 6. Mencuci baju
Putih 7. Memasak bubur ayam |
|
Penerapan Fondasi CT dalam kehidupan sehari-hari A. Jawaban yang sudah tepat 1. Mencuci baju putih |
|
Dekomposisi,
Pada tahap awal mengumpulkan pakaian putih yang akan dicuci, menyiapkan alat
cuci, ember, dan memahami proses pencucian. Penganalan
pola, Mengetahui pola dalam mencuci pakaian putih dari memisahkan pakaian
putih dengan pakaian berwarna untuk dicuci, memperkirakan detergen dan air
yang akan dibutuhkan untuk mencuci pakaian. Abstraksi,
Setelah mengetahui berapa banyak pakaian putih yang kotor, kemudian akan
dilanjutkan dengan memahami pakaian yang kotor, menyatukan pakaian ke dalam
ember hingga mencuci dan menjemurnya. Algoritma,
Setelah mengetahui langkah diatas dari pemecahan mencuci pakaian putih mulai
dari memilah pakaian, menyiapkan detergen,
alat mencuci, dan mencuci hingga menjemur. |
|
B. Jawaban yang kurang tepat 1. Memasak Bubur Ayam Dekomposisi,
pada tahap awal kami menyiapkan langkah pemecahan permasalahan dengan
menyiapkan bahan-bahan Pengenalan
pola, dengan memahami prosedur memasak bubur ayam dimulai dari memasak air
terlebih dahulu, memasak hingga menyalakan mesin pemasak bubur tersbeut. Abstraksi,
Pandangan terkait seberapa banyak beras yang harus dibutuhkan untuk memasak
bubur, komposisi takaran antara beras dan airnya. Algoritma,
sudah memahami pola sehingga stepnya masukan beras secukupnya, air
secukupnya, memasukkan kaldu ayam dan potongan ayam nyalakan mesin pemasak nasi. |
D. DEMONSTRASI
KONTEKSTUAL
|
Nama/No. Kelompok: |
Kelompok 5 |
|
No. Induk / Nama Mahasiswa: |
1. Andri Hermawan (23530210) 2. Dina Septiana (23530265) 3. Ema Tri Rejeki (23530276) 4. Nabila
Atika (23530364) 5. Rini Maghfiroh (23530419) |
|
Feedback/pertanyaan: |
Tanggapan/solusi: |
|
Bagaimana Computational Thinking membantu dalam mengelola waktu di kehidupan sehari-hari? |
Dalam
mengelola waktu, penerapan Computational Thinking dengan melakukan dekomposisi tugas-tugas harian menjadi
langkah-langkah yang lebih kecil. Pengenalan pola digunakan untuk
mengidentifikasi waktu-waktu paling
produktif dalam sehari yang memungkinkan untuk
mengatur prioritas tugas
sesuai dengan pola produktivitas. Abstraksi membantu menyederhanakan jadwal
harian, membuang aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah, dan algoritma membantu merancang rutinitas yang efisien untuk
meningkatkan efektivitas. |
|
Menurut kelompok Anda, apakah CT dapat diterapkan pada muatan pelajaran di Sekolah Dasar? |
Iya, bisa. Misalnya
penerapan CT pada muatan pelajaran matematika di sekolah dasar. Dalam pembelajaran matematika di sekolah
dasar, penerapan Computational Thinking dengan dekomposisi, memecah
masalah matematika kompleks menjadi langkah-langkah yang lebih
sederhana. Contohnya, saat
mengajarkan penjumlahan dan pengurangan, guru dapat membimbing peseta didik untuk
memecah masalah penjumlahan dan pengurangan dengan
langkah-langkah yang lebih
singkat dan jelas,
hal ini dapat
memudahkan mereka memahami
dan menyelesaikan masalah. |
|
Bagaimana Computational Thinking dapat
diterapkan dalam kegiatan proyek atau eksperimen sains di Sekolah Dasar? |
Peserta didik dapat menerapkan Computational
Thinking dalam kegiatan proyek sains dengan melakukan dekomposisi eksperimen
menjadi langkah-langkah yang lebih kecil, seperti merancang hipotesis,
mengumpulkan data, dan membuat kesimpulan. Pengenalan pola bisa digunakan
untuk mengidentifikasi tren dalam hasil eksperimen, sedangkan abstraksi
membantu peserta didik menyederhanakan konsep- konsep ilmiah kompleks.
Algoritma dapat diterapkan dalam merencanakan langkah-langkah eksperimen
dengan urutan yang logis. |
E. KONEKSI
ANTAR MATERI
1. Tuliskan contoh-contoh hubungan CT dengan kehidupan sehari-hari Anda!
Jawaban :
Contoh-contoh hubungan CT
dengan kehidupan sehari-hari:
a. Manajemen Waktu
1) Computational Thinking (CT): Menerapkan dekomposisi untuk memecah tugas
kompleks menjadi sub-tugas yang lebih kecil, menggunakan algoritma untuk
merencanakan kegiatan harian, dan mengoptimalkan jadwal untuk meningkatkan
efisiensi waktu.
2) Kehidupan Sehari-hari: Menggunakan strategi pemecahan masalah dan
algoritma untuk merencanakan aktivitas harian, menetapkan prioritas, dan
mengelola waktu secara efektif.
b.
Pencarian Informasi Online:
1) Computational Thinking (CT): Menerapkan algoritma pencarian untuk
menemukan informasi yang relevan, menggunakan pola pencarian untuk menyaring
hasil, dan memahami representasi data dalam halaman web.
2) Kehidupan Sehari-hari: Menggunakan mesin pencari online dengan
memasukkan query yang efektif, mengevaluasi dan memilih informasi yang relevan
dari hasil pencarian, serta memahami bagaimana data ditampilkan dalam halaman
web.
c.
Pengelolaan Keuangan Pribadi
1) Computational Thinking (CT): Menerapkan dekomposisi untuk memecah
rencana keuangan menjadi tugas-tugas kecil, menggunakan algoritma untuk
merencanakan pengeluaran dan penghematan, dan mengoptimalkan strategi keuangan.
2) Kehidupan Sehari-hari: Membuat anggaran, melacak pengeluaran, dan
merencanakan tabungan menggunakan prinsip-prinsip pemecahan masalah dan
perencanaan yang mirip dengan Computational Thinking.
d.
Navigasi GPS
1) Computational Thinking (CT): Menggunakan algoritma pencarian untuk
menemukan rute tercepat, menerapkan pemodelan simulasi untuk memprediksi
kondisi lalu lintas, dan menggunakan representasi data untuk menampilkan peta
interaktif.
2) Kehidupan Sehari-hari: Menggunakan aplikasi GPS untuk menentukan rute
perjalanan, mendapatkan estimasi waktu kedatangan, dan memahami kondisi lalu
lintas berdasarkan informasi yang diberikan.
e.
Pemilihan Produk Online
1) Computational Thinking (CT): Menerapkan analisis data untuk
membandingkan produk, menggunakan algoritma rekomendasi untuk menentukan
preferensi, dan memahami representasi data dalam ulasan pengguna.
2) Kehidupan Sehari-hari: Memilih produk berdasarkan ulasan online,
menggunakan algoritma rekomendasi pada platform e-commerce, dan memahami
informasi dalam ulasan pengguna.
2. Menurut pendapat Anda, dapatkah CT diterapkan pada mata pelajaran yang
akan Anda ajar? Penerapan CT dapat dilakukan baik pada metode atau bentuk
pengajaran, soal-soal, atau aktivitas lainnya di dalam kelas.
Jawaban :
Menurut saya, Computational
Thinking (CT) dapat diterapkan pada mata pelajaran di sekolah dasar. Meskipun
konsep ini mungkin terdengar teknis, CT sebenarnya melibatkan serangkaian
keterampilan kognitif yang melibatkan pemecahan masalah, logika, dan pemikiran
algoritmik. Berikut adalah beberapa cara CT dapat diterapkan dalam konteks
pendidikan dasar:
a. Pemecahan Masalah
1) Peserta didik diminta untuk
mengidentifikasi masalah dalam konteks sehari-hari dan mencari solusi untuk
itu.
2) Menggunakan kegiatan permainan
atau teka-teki untuk mengajarkan cara memecahkan masalah.
b. Pemikiran Algoritmik
1)
Mengajarkan langkah-langkah terstruktur dan
urutan logis, seperti membuat resep, memandu teman untuk melakukan sesuatu,
atau menyusun langkah-langkah untuk menyelesaikan tugas tertentu.
2)
Menggunakan pemrograman ringan atau pemikiran
algoritmik sederhana untuk memecahkan masalah matematika atau logika.
c. Pemahaman Data
1)
Membahas konsep dasar data, seperti
pengelompokan, pengurutan, dan pengelolaan data.
2)
Menggunakan grafik sederhana atau tabel untuk
membantu peserta didik memahami dan menganalisis informasi.
d. Proyek Berbasis CT
1)
Memasukkan proyek-proyek kecil yang
melibatkan pemikiran komputasional, seperti membuat permainan sederhana,
membuat grafik data, atau membuat presentasi digital.
2)
Menggunakan aplikasi atau perangkat lunak
pembelajaran berbasis komputer yang dirancang khusus untuk anak-anak untuk
meningkatkan keterampilan CT.
e. Kolaborasi dan Komunikasi
1)
Mendorong kerja sama dan berbagi ide antar
peserta didik, menggunakan konsep CT untuk memecahkan masalah bersama.
2)
Membuat proyek bersama yang melibatkan
pemecahan masalah dan pemikiran algoritmik.
f.
Simulasi dan Model
Menggunakan permainan simulasi
atau model sederhana untuk membantu peserta didik memahami konsep-konsep ilmiah
atau matematika.
Penerapan CT di sekolah dasar sebaiknya
bersifat menyenangkan dan sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif peserta
didik. Metode pembelajaran yang interaktif dan berbasis proyek dapat membantu
mengembangkan keterampilan CT secara alami dan menyenangkan bagi peserta didik.
F. AKSI NYATA
1. Apa harapan/target Anda dalam mengikuti mata kuliah ini?
Jawaban:
Dalam mengikuti mata kuliah
ini, harapan atau target yang saya inginkan antara lain:
a. Mampu memahami konsep dasar atau fondasi Computational Thinking seperti
dekomposisi masalah, pola, abstraksi, dan algoritma.
b. Mengembangkan kemampuan untuk merumuskan masalah dalam bentuk
komputasional dan merancang solusi yang efektif.
c. Mampu merancang algoritma untuk menyelesaikan masalah tertentu dan
memahami prinsip-prinsip dasar dalam mengembangkan algoritma.
d. Mengasah keterampilan logika untuk melakukan analisis dan pemecahan
masalah dengan cara yang terstruktur dan efisien.
e. Dapat melibatkan pengembangan keterampilan kerja sama dan kolaborasi
dalam ketika berkelompok.
f. Memahami bagaimana Computational Thinking dapat diterapkan dalam
berbagai bidang, seperti ilmu komputer, bisnis, ilmu sosial, dan lainnya.
2. Pemahaman baru apa yang Anda dapatkan setelah mempelajari CT?
Jawaban :
Pemahaman baru yang saya peroleh setelah mempelajari Computational
Thinking (CT), yaitu:
a. CT membantu dalam mengembangkan pemahaman sistematis dalam merinci dan
menyelesaikan masalah. Ini melibatkan dekomposisi masalah menjadi bagian-bagian
yang lebih kecil, pengenalan pola, abstraksi, dan pembuatan algoritma.
b. Kemampuan untuk merancang algoritma untuk menyelesaikan masalah, yang
melibatkan langkah-langkah logis dan terurut secara komputasional.
c. CT membantu dalam meningkatkan keterampilan logika dan kemampuan
analisis untuk memahami dan menyelesaikan masalah dengan cara yang efisien.
d. CT membantu orang untuk melihat dan memahami cara konsep komputasi
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya dalam konteks pemrograman,
tetapi juga dalam analisis data, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah
di berbagai bidang.
e. Pembelajaran CT dapat meningkatkan keterampilan kolaborasi dan tim dalam
mengatasi masalah bersama dalam berkelompok.
f. CT mengajarkan kemampuan berpikir kritis dalam menyusun solusi berbasis
fakta dan logika, yang dapat diterapkan dalam konteks komputasi maupun di luar
itu.
3. Bagaimana pendapat Anda mengenai keberadaan CT dalam kehidupan Anda?
Jawaban:
CT memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan teknologi dan
penggunaan kecerdasan buatan. CT membantu manusia untuk memecahkan masalah
secara efektif, merancang algoritma, dan memahami konsep komputasional.
Dalam kehidupan sehari-hari, CT memiliki dampak yang signifikan,
terutama dalam dunia teknologi, bisnis, ilmu pengetahuan, dan bidang lainnya.
Kemampuan untuk berpikir secara komputasional membantu dalam menghadapi
tantangan kompleks dan meningkatkan efisiensi dalam pemecahan masalah. Oleh
karena itu, CT dapat dianggap sebagai suatu keterampilan inti yang sangat
bermanfaat dalam era di mana teknologi informasi dan komputasi mendominasi
banyak aspek kehidupan manusia.
4. Bagaimana perasaan Anda setelah belajar mengenai CT?
Jawaban:
Saya merasa tertarik mempelajari CT untuk memperdalam pemahaman saya
tentang konsep-konsep dasar komputasi dan cara komputasi memengaruhi berbagai
aspek kehidupan. Sehinga dengan mempelajari CT dapat memicu ketertarikan saya
untuk menjelajahi lebih lanjut bidang-bidang terkait seperti ilmu komputer,
kecerdasan buatan, atau analisis data.
5. Apa potensi kendala yang mungkin akan Anda alami selama mengikuti kuliah
ini? Jika ada, tindakan apa yang akan Anda lakukan untuk mengantisipasinya?
Jawaban:
Beberapa potensi kendala yang mungkin saya alami selama mengikuti
perkuliahan terkait CT, yaitu keterbatasan pengalaman pemrograman karena belum
memiliki pengalaman pemrograman sebelumnya sehinga masih kesulitan dalam
menerapkan konsep-konsep tersebut. Selain itu, saya mengalami kesulitan
mengaitkan konsep-konsep CT dengan kasus nyata atau menerapkan pemikiran
komputasional dalam konteks praktis.
Tindakan yang saya lakukan, yaitu menemukan sumber belajar tambahan
seperti tutorial online, buku, atau kursus pemrograman dasar. Banyak platform
edukasi online yang menyediakan sumber daya gratis atau berbayar untuk memahami
dasar-dasar pemrograman dan yang relevan dengan materi CT yang saya pelajari.
Selain itu, saya juga akan melakukan diskusikan konsep-konsep dengan teman
sekelas atau kelompok studi untuk berbagi perspektif dan pengalaman yang dapat
membantu saya melihat aplikasi konsep dalam berbagai konteks.

Komentar
Posting Komentar