PORTOFOLIO COMPUTATIONAL THINKING_NABILA ATIKA_23530364




BAB I
PENDAHULUAN

Computational Thinking (CT) adalah sebuah pendekatan dalam proses pembelajaran. CT berperan penting dalam pengembangan aplikasi komputer, namun CT dapat juga digunakan untuk mendukung pemecahan masalah disemua disiplin ilmu, termasuk humaniora, matematika, dan ilmu pengetahuan. CT melatih otak untuk terbiasa berfikir secara logis, terstruktur dan kreatif. Konsep dan proses komputasi memiliki daya tarik yang bertujuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dapat diselesaikan dengan cepat, memerlukan sedikit sumber daya manusia, waktu, maupun ruang penyimpanan fisik dan digital. Jawaban yang dihasilkan merupakan jawaban yang tepat dan akurat. Konsep CT bersifat abstrak sehingga ditemukan kesulitan dalam penyampaian materi pembelajaran. Kemungkinan terjadinya kesalahpahaman akibat perbedaan daya imajinasi atau pemahaman.

Berpikir komputasi merupakan sebuah konsep atau cara untuk mengamati masalah dan mencari solusi dari permasalahan tersebut dengan menerapkan teknologi ilmu komputer. Dengan menggunakan cara berpikir komputasi, seseorang akan mampu mengamati masalah, memecahkan masalah hingga bisa melakukan pengembangkan solusi dari pemecahan masalah. Pada dasarnya, berpikir komputasi memang mengadaptasi sebuah pemikiran atau cara kerja yang berasal dari komputer. Akan tetapi, dalam berpikir komputasi tidak harus menggunakan computer.

Kemampuan dalam memecahkan masalah ini dapat dikembangkan di berbagai bidang kehidupan, tidak hanya di bidang studi yang berkaitan dengan teknologi informasi. Kemampuan komputer yang diterapkan untuk memahami konten bidang matematika disebut sebagai berpikir komputasi dalam matematika. Berpikir komputasi matematika dibutuhkan sebagai salah satu cara untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari- hari. Kemampuan ini perlu dimiliki dan dikembangkan oleh siswa disekolah melalui kurikulum pembelajaran matematika untuk meningkatkan kemampuan mensistemasikan masalah dan penyelesaiannya. Cara menerapkan kemampuan berpikir komputasi (computational thinking) adalah dengan memahami masalah, mengumpulkan semua data, diikuti dengan pencarian solusi terhadap masalah.

Berpikir komputasi dapat memudahkan peserta didik memperoleh keputusan dan penyelesaian berbagai masalah matematika. Hal ini berdasarkan atas keyakinan bahwa kemampuan berpikir komputasi adalah sebuah kemampuan berpikir untuk menyelesaikan suatu permasalahan secara menyeluruh, logis, dan teratur. Berpikir komputasi adalah teknik memecahkan masalah yang sangat luas wilayah penerapannya. Berpikir komputasi juga untuk menyelesaikan berbagai masalah di dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan berpikir komputasi meliputi empat hal, yaitu: 1) Dekomposisi, 2) Pengenalan pola, 3) Abstraksi, 4) Algoritma.

   
BAB II

PEMAHAMAN COMPUTATIONAL THINKING


Sampai saat ini, Anda sudah mendapatkan contoh-contoh implementasi CT dalam kehidupan sehari-hari. Dalam contoh-contoh tersebut, dapat dilihat bahwa CT dapat diterapkan dengan ataupun tanpa menggunakan “komputer”. Tuliskanlah hal atau persoalan apa yang zaman sekarang tidak memakai “komputer”, TIK, dan robot tapi membutuhkan CT!

Berikut hal atau persoalan apa yang zaman sekarang tidak memakai “komputer”, TIK, dan robot tapi membutuhkan CT antara lain:

a.       Membuat ukiran dari kayu

b.      Cara menutup cat tembok yang mengelupas agar rumah menjadi nyaman

c.       Cara menghilangkan kotoran membandel pada kaca

d.      Mencucu pakaian putih

e.       Membuat layangan yang mampu terbag dengan stabil.

f.        Menulis resensi buku

g.      Membuat brownies

h.      Menulis cerpen

i.        Membuat batik colet

j.        Membuat vas bunga dari botol dan kaleng bekas

k.      Membuat kopi

Tuliskan dan jelaskan minimal satu contoh penerapan untuk masing-masing fondasi CT dalam kehidupan sehari-hari! Contoh yang Anda berikan dapat mengandung lebih dari satu fondasi.

a.       Cara menutup cat tembok yang mengelupas agar rumah menjadi nyaman

b.      Cara menghilangkan kotoran membandel pada kaca

c.       Mencucu pakaian putih

d.      Membuat layangan yang mampu terbag dengan stabil.

e.       Menulis resensi buku

f.        Membuat brownies

g.      Menulis cerpen

h.      Membuat batik colet

i.        Membuat vas bunga dari botol dan kaleng bekaS

j.     Membuat kopi


B. RUANG KOLABORASI

Kelas PGSD H

Nama Kelompok /NPM :

1.      Andri Hermawan  (23530210)

2.      Dina Septiana        (23530265)

3.      Ema Tri Rejeki      (23530276)

4.      Nabila Atika          (23530364)

5.      Rini Maghfiroh      (23530419)

Hasil Diskusi Secara Umum :

Computational Thinking adalah sebuah konsep berpikir secara sistematis terhadap suatu permasalahan yang dapat diselesaikan secara efektif dan efisien. CT membantu dalam menganalisis masalah kompleks, memahami masalahnya, dan mengembangkan solusi yang tepat. Teknik ini tidak hanya terkait dengan pemrograman, tetapi juga digunakan dalam berbagai bidang seperti sains, teknologi, bisnis, pendidikan, kesehatan, dan ilmu sosial. Terdapat empat keterampilan utama dalam computational thinking, yaitu decomposition, pattern recognition, abstraction, dan algorithm. Dengan mempelajari computational thinking, seseorang dapat mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dan mempersiapkan diri untuk tantangan era digital.

Contoh hal atau persoalan zaman sekarang yang tidak memakai “computer”, TIK, dan robot tapi membutuhkan CT

1.      Membuat keputusan

2.      Mengelola keuangan

3.      Merencanakan perjalanan

4.      Mengerjakan latihan soal

5.      Memasak mie instan

6.      Mencuci baju Putih

7.      Memasak bubur ayam

Penerapan Fondasi CT dalam kehidupan sehari-hari

A. Jawaban yang sudah tepat

1.  Mencuci baju putih

Dekomposisi, Pada tahap awal mengumpulkan pakaian putih yang akan dicuci, menyiapkan alat cuci, ember, dan memahami proses pencucian.

Penganalan pola, Mengetahui pola dalam mencuci pakaian putih dari memisahkan pakaian putih dengan pakaian berwarna untuk dicuci, memperkirakan detergen dan air yang akan dibutuhkan untuk mencuci pakaian.

Abstraksi, Setelah mengetahui berapa banyak pakaian putih yang kotor, kemudian akan dilanjutkan dengan memahami pakaian yang kotor, menyatukan pakaian ke dalam ember hingga mencuci dan menjemurnya.

Algoritma, Setelah mengetahui langkah diatas dari pemecahan mencuci pakaian putih mulai dari memilah pakaian, menyiapkan detergen, alat mencuci, dan mencuci hingga menjemur.

B. Jawaban yang kurang tepat

2.  Memasak Bubur Ayam

Dekomposisi, pada tahap awal kami menyiapkan langkah pemecahan permasalahan dengan menyiapkan bahan-bahan

Pengenalan pola, dengan memahami prosedur memasak bubur ayam dimulai dari memasak air terlebih dahulu, memasak hingga menyalakan mesin pemasak bubur tersebut.

Abstraksi, Pandangan terkait seberapa banyak beras yang harus dibutuhkan untuk memasak bubur, komposisi takaran antara beras dan airnya.

Algoritma, sudah memahami pola sehingga stepnya masukan beras secukupnya, air secukupnya, memasukkan kaldu ayam dan potongan ayam nyalakan mesin pemasak nasi.


 C. DEMONSTRASI KONTEKSTUAL

Nama/No. Kelompok:

Kelompok 5

No. Induk / Nama Mahasiswa:

1.   Andri Hermawan (23530210)

2.   Dina Septiana       (23530265)

3.   Ema Tri Rejeki     (23530276)

4.   Nabila Atika         (23530364)

5.   Rini Maghfiroh     (23530419)

Feedback/pertanyaan:

Tanggapan/solusi:

 

 

 

 

Bagaimana Computational Thinking membantu dalam mengelola waktu di kehidupan sehari-hari?

Dalam mengelola waktu, penerapan Computational Thinking dengan melakukan dekomposisi tugas-tugas harian menjadi langkah-langkah yang lebih kecil. Pengenalan pola digunakan untuk mengidentifikasi waktu-waktu paling produktif dalam sehari yang memungkinkan untuk mengatur prioritas tugas sesuai dengan pola produktivitas. Abstraksi membantu menyederhanakan jadwal harian, membuang aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah, dan algoritma membantu merancang rutinitas yang efisien untuk meningkatkan efektivitas.

  Menurut kelompok Anda, apakah CT dapat diterapkan pada muatan pelajaran di Sekolah Dasar?

Iya, bisa. Misalnya penerapan CT pada muatan pelajaran matematika di sekolah dasar. Dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar, penerapan Computational Thinking dengan dekomposisi, memecah masalah matematika kompleks menjadi langkah-langkah yang lebih sederhana. Contohnya, saat mengajarkan penjumlahan dan pengurangan, guru dapat membimbing peseta didik untuk memecah masalah penjumlahan dan pengurangan dengan langkah-langkah yang lebih singkat dan jelas, hal ini dapat memudahkan mereka memahami dan menyelesaikan masalah.

 

 

 

Bagaimana Computational Thinking dapat diterapkan dalam kegiatan proyek atau eksperimen sains di Sekolah Dasar?

Peserta didik dapat menerapkan Computational Thinking dalam kegiatan proyek sains dengan melakukan dekomposisi eksperimen menjadi langkah-langkah yang lebih kecil, seperti merancang hipotesis, mengumpulkan data, dan membuat kesimpulan. Pengenalan pola bisa digunakan untuk mengidentifikasi tren dalam hasil eksperimen, sedangkan abstraksi membantu peserta didik menyederhanakan konsep- konsep ilmiah kompleks. Algoritma dapat diterapkan dalam merencanakan langkah-langkah eksperimen dengan urutan yang logis.

 

D. KONEKSI ANTAR MATERI

1.      Tuliskan contoh-contoh hubungan CT dengan kehidupan sehari-hari Anda!

Contoh CT dalam kehidupan sehari-hari antara lain mencuci pakaian, membuat puding cokelat, membuat kopi, membuat mie instan, mencuci pakaian putih, membuat ukiran dari kayu, cara menutup cat tembok yang mengelupas agar rumah menjadi nyaman, cara menghilangkan kotoran membandel pada kaca dan sebagainya.

2.      Menurut pendapat Anda, dapatkah CT diterapkan pada mata pelajaran yang akan Anda ajar? Penerapan CT dapat dilakukan baik pada metode atau bentuk pengajaran, soal-soal, atau aktivitas lainnya di dalam kelas.

Menurut pendapat saya, CT dapat diterapkan pada mata pelajaran, misalnya akan saya terapkan pada mata pelajaran IPAS. Pada materi kelangkaan sumber daya. Ketika siswa diberikan sebuah permasalahan berupa kelangkaan sumber daya alam berupa kelangkaan air yang terjadi di sekitar tempat tinggal, dimana siswa diminta untuk bertindak secara rasional dalam menghadapi kelangkaan tersebut. Selanjutnya guru meminta siswa untuk mempelajari dan mencaritahu faktor penyebab kelangkaan air. Dalam dekomposisi, siswa dituntut untuk memecah atau mengurai masalah hingga menjadi lebih sederhana atau menjadi lebih kecil hingga menemukan inti dari masalah itu untuk kemudian diidentifikasi satu persatu hingga mencari penyebab masalah itu muncul. Selanjutnya siswa akan memahami pola bagaimana cara membuat alat yang dapat digunakan untuk menampung air hujan di saat jumlah air langka. Pada pengenalan pola, siswa akan berupaya mencari pola tertentu dari masalah yang muncul secara mandiri atau bisa disesuaikan dengan cara masing-masing siswa mengelola tiap pola dalam masalah tersebut. Siswa diajak untuk mengembangkan rancangan untuk membuat alat penampung air hujan melalui ide-idenya. Pada tahap ini siswa akan menghasilkan gambar desain rancangan alat penampung air hujan sederhana. Setelah berhasil mengurai dan mencari pola, tahap selanjutnya siswa akan melakukan proses identifikasi terhadap prinsip yang menghasilkan pola maupun trend dari masalah serta merumuskan model penyelesaian masalah yang ideal. Pada tahap ini disebut abstraksi. Pada tahap algoritma, siswa mengurutkan langkah-langkah pemecahan masalah untuk membuat alat penampung air hujan sederhna. Dengan menyiapkan tong penampung air, pipa, lem pipa, obeng, mur drat tom, bor, sambungan pipa, kran, lilin dan talang air. Siswa akan melakukan pengembangan melalui petunjuk yang ada pada permasalahan secara satu per satu maupun tahapan demi tahapan untuk kemudian menghasilkan metode pemecahan masalah yang sesuai. Teknik Computational Thinking sangat penting diterapkan kepada siswa, karena Teknik ini akan membangun karakter siswa khususnya dalam hal pemecahan masalah yang lebih sistematis, terstruktur melalui proses analisa yang tepat terhadap masalah yang dihadapinya sehingga akan mendapatkan solusi yang efektif, efisien, dan optimal. Selain itu, teknik Computational Thinking juga membangun model pendekatan yang mengarahkan siswa untuk melakukan restrukturisasi tiap permasalahan bahkan yang rumit sekalipun melalui kecakapan untuk berpikir dan menganalisa secara kritis. Sekaligus mencari solusi permasalahan yang kompleks (complex problem solving).


E. AKSI NYATA

1.      Apa harapan/target Anda dalam mengikuti mata kuliah ini?

Melalui mata kuliah Computational Thinking, saya dapat mengembangkan pemikiran komputasional dan keterampilan untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan computational thinking dalam pembelajaran dapat membantu saya dalam memahami dan menyelesaikan masalah secara sistematis, menggunakan konsep-konsep komputasi seperti pemecahan masalah, analisis data, dan pemodelan. Dengan demikian, saya akan dapat mengaplikasikan pemikiran komputasional dalam berbagai konteks, termasuk dalam memecahkan masalah di luar ranah komputasi. Saya juga dapat mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana teknologi dan komputasi memengaruhi berbagai aspek kehidupan, serta bagaimana saya dapat menggunakan pemikiran komputasional untuk mengatasi tantangan sehari-hari. Dengan demikian, penerapan computational thinking dalam pembelajaran dapat memberikan manfaat yang luas dalam pengembangan keterampilan dan pemikiran saya.

2.      Pemahaman baru apa yang Anda dapatkan setelah mempelajari CT?

Pemahaman baru setelah mempelajari Critical Thinking (CT) akan membantu saya dalam memahami definisi CT, mengapa CT penting, empat fondasi CT, pembentukan disposisi CT, dan bagaimana mengajar CT. Selain itu, saya akan memperoleh keterampilan dalam memecahkan masalah secara sistematis, logis, dan efektif. Hal ini memungkinkan saya untuk menyelesaikan masalah mulai dari yang sederhana hingga kompleks. Pemahaman ini penting dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan, karier, dan pengambilan keputusan. Dengan demikian, penerapan CT dapat memberikan manfaat yang signifikan dalam memecahkan masalah dan pengambilan keputusan secara efektif.

3.      Bagaimana pendapat Anda mengenai keberadaan CT dalam kehidupan Anda?

Menurut saya, keberadaan CT dalam kehidupan sehari-hari sangat nyata dimana CT dapat dimanfaatkan oleh semua orang dan untuk berbagai persoalan, bukan hanya orang-orang yang pekerjaanya berkaitan erat dengan computer, atau persoalan-persoalan di bidang computer saja. Dengan CT persoalan sederhana maupun kompleks dapat diatasi dengan optimal.

4.      Bagaimana perasaan Anda setelah belajar mengenai CT?

Setelah belajar mengenai Computational Thinking (CT), saya merasa senang karena mendapatkan pengetahuan baru yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi dan membantu dalam mengatasi serta mengelola berbagai permasalahan secara efektif, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kegiatan pembelajaran. CT merupakan seperangkat metode yang digunakan untuk memecahkan masalah, lazim diterapkan dalam program komputer, dan melatih seseorang untuk memecahkan masalah kompleks dengan berpikir secara terstruktur, kritis, dan logis. Hal ini juga penting untuk diajarkan kepada peserta didik, karena CT berlaku untuk semua orang, dimana saja, dan kapan saja.

5.       Apa potensi kendala yang mungkin akan Anda alami selama mengikuti kuliah ini? Jika ada, tindakan apa yang akan Anda lakukan untuk mengantisipasinya?

     Kendala : Kesulitan untuk melakukan pengamatan atau analisis terhadap berbagai kesamaan yang ada di antara persoalan-persoalan.

     Tindakan : Berlatih untuk mencoba menganalisis tiap bagian dari ke empat fondasi dalam CT agar menjadi lebih terampil dalam menemukan solusi dari suatu permasalahan menggunakan yang sedang dialami.























 

Komentar