BAB I PENDAHULUAN
Di era digital, keterampilan berpikir komputasional (Computational Thinking, CT) menjadi semakin penting. CT adalah pendekatan pemecahan masalah yang melibatkan pemikiran logis, analitis, dan algoritmis, membantu individu memecahkan masalah secara terstruktur dan sistematis seperti komputer.
Mengintegrasikan CT di sekolah dasar (SD) mempersiapkan siswa menghadapi tantangan masa depan dengan mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan pemecahan masalah. CT dapat diperkenalkan melalui pembelajaran tematik, proyek kreatif, dan kegiatan praktis seperti merancang model, menganalisis data eksperimen, atau memecahkan teka-teki logika.
Penerapan CT membuat pembelajaran lebih interaktif dan relevan, membekali siswa dengan keterampilan penting untuk berbagai bidang. Integrasi CT di SD adalah langkah strategis untuk menyiapkan siswa menjadi individu yang adaptif dalam dunia berbasis teknologi.
BAB II PEMAHAMAN CT
A. MULAI DARI DIRI
Rini Maghfiroh
Jenjang Sekolah Dasar
Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Menurut saya, cara computer berpikir melalui algoritma dan pemrograman yang sudah disetting oleh manusia, sehingga dapat membantu manusia dalam melakukan berbagai macam kegiatan. Seperti, membantu dalam membuat presentasi kegiatan, membantu dalam membuat tata letak dan organisasi, membantu manusia dalam membuat keputusan seperti memilih jalur yang paling efisien untuk menuju kesuatu tempat, dan lain sebagainya.
Computational Thinking (CT) merupakan pendekatan dalam proses pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam mengembangkan aplikasi dan pengintegrasian computer sebagai sebuah mata pelajaran wajib dalam kurikullum nasional. Dalam kata lain CT adalah cara berfikir untuk menyelesaikan suatu permasalahan dengan efektif dan efisien. Dalam pembelajaran, CT dapat membantu peserta didik untuk melihat keterkaitan antara kehidupan didalam maupun diluar kelas serta dapat melatih otak untuk terbiasa berpikir secara logis, kreatif dan terstruktur.
Motivasi saya dalam mengambil mata kuliah CT yaitu selain sebagai syarat mengikuti kegiatan PPG Prajabatan supaya saya dapat mempelajari dan memahami CT secara mendalam, serta dapat mempelajari CT dapat memberikan manfaat yang besar bagi peserta didik dalam menghadapi tantangan dimasa depan.
B. EKSPLORASI KONSEP
Pada kegiatan ini Bapak/Ibu diminta untuk menjawab pertanyaan berikut ini.
1. Sampai saat ini, Anda sudah mendapatkan contoh-contoh implementasi CT dalam kehidupan sehari-hari. Dalam contoh-contoh tersebut, dapat dilihat bahwa CT dapat diterapkan dengan ataupun tanpa menggunakan “komputer”. Tuliskanlah hal atau persoalan apa yang zaman sekarang tidak memakai “komputer”, TIK, dan robot tapi membutuhkan CT!
2. Tuliskan dan jelaskan minimal satu contoh penerapan untuk masing-masing fondasi CT dalam kehidupan sehari-hari! Contoh yang Anda berikan dapat mengandung lebih dari satu fondasi.
Jawab:
1.
Hal atau persoalan
kehidupan sehari-hari sudah banyak saya lakukan. Akan tetapi saya tidak sadar
bahwa hal tersebut berkaitan dengan copetitional thinking, seperti contohnya
memilih rute jalan untuk kesuatu tempat dengan memilih jalan yang lebih cepat
sampai ke lokasi. Selain itu, memilih tempat untuk membeli suatu barang yang
lebih baik. Kemudian membagi waktu untuk memasak, mencuci dan bersiap-siap
untuk berangkat kuliah.
2.
Berikut adalah fondasi
penerapan CT :
a.
Decompotition : Pembagian
persoalan ke dalam beberapa sub yang lebih kecil. missal:
-
apa menu makan hari ini?
-
apakah sudah ada bahan
untuk dimasak?
-
pukul berapa harus masak?
-
pukul berapa harus nyuci?
-
pukul berapa harus
berangkat kuliah?
b.
Abstraction : proses
eliminasi bagian-bagian yang tidak relevan dari suatu persoalan.
-
apakah harus mencuci dahulu
atau memasak dahulu?
c.
Patter recognition :
pengamatan atau analisis terhadap berbagai kesamaan yang ada diantara
persoalan-persoalan.
-
dimana harus mencuci?
-
dimana harus memsak?
d.
Algoritma : metode khusus
dengan menggunakan konsep matemtais dan pemecahan masalah.
berapa lama waktu yang digunakan untuk memasak?
berapa lama waktu yang digunakan untuk siap-siap berangkat kuliah?
C. RUANG KOLABORASI
|
Kelas PGSD H Nama Kelompok /NPM : 1.
Andri Hermawan (23530210) 2.
Dina Septiana (23530265) 3.
Ema Tri Rejeki (23530276) 4.
Nabila Atika (23530364) 5.
Rini Maghfiroh (23530419) |
|
Hasil Diskusi Secara Umum : Computational Thinking adalah sebuah konsep
berpikir secara sistematis terhadap suatu permasalahan yang dapat
diselesaikan secara efektif dan efisien. CT membantu dalam menganalisis
masalah kompleks, memahami masalahnya, dan mengembangkan solusi yang tepat.
Teknik ini tidak hanya terkait dengan pemrograman, tetapi juga digunakan
dalam berbagai bidang seperti sains, teknologi, bisnis, pendidikan,
kesehatan, dan ilmu sosial. Terdapat empat keterampilan utama dalam
computational thinking, yaitu decomposition, pattern recognition, abstraction,
dan algorithm. Dengan mempelajari computational thinking, seseorang dapat
mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dan mempersiapkan diri untuk
tantangan era digital. |
|
Contoh hal atau persoalan zaman sekarang yang tidak memakai “computer”,
TIK, dan robot tapi membutuhkan CT 1.
Membuat keputusan 2.
Mengelola keuangan 3.
Merencanakan perjalanan 4.
Mengerjakan latihan soal 5.
Memasak mie instan 6.
Mencuci baju Putih 7.
Memasak bubur ayam |
|
Penerapan Fondasi CT dalam kehidupan sehari-hari A.
Jawaban yang sudah tepat 1.
Mencuci baju putih Dekomposisi, Pada tahap awal mengumpulkan
pakaian putih yang akan dicuci, menyiapkan alat cuci, ember, dan memahami
proses pencucian. Penganalan pola, Mengetahui pola dalam mencuci
pakaian putih dari memisahkan pakaian putih dengan pakaian berwarna untuk
dicuci, memperkirakan detergen dan air yang akan dibutuhkan untuk mencuci
pakaian. Abstraksi, Setelah mengetahui berapa banyak
pakaian putih yang kotor, kemudian akan dilanjutkan dengan memahami pakaian
yang kotor, menyatukan pakaian ke dalam ember hingga mencuci dan menjemurnya. Algoritma, Setelah mengetahui langkah diatas
dari pemecahan mencuci pakaian putih mulai dari memilah pakaian, menyiapkan
detergen, alat mencuci, dan mencuci hingga menjemur. |
|
B.
Jawaban yang kurang tepat 1.
Memasak Bubur Ayam Dekomposisi, pada tahap awal kami menyiapkan
langkah pemecahan permasalahan dengan menyiapkan bahan-bahan Pengenalan pola, dengan memahami prosedur
memasak bubur ayam dimulai dari memasak air terlebih dahulu, memasak hingga
menyalakan mesin pemasak bubur tersbeut. Abstraksi, Pandangan terkait seberapa banyak
beras yang harus dibutuhkan untuk memasak bubur, komposisi takaran antara
beras dan airnya. Algoritma, sudah memahami pola sehingga stepnya
masukan beras secukupnya, air secukupnya, memasukkan kaldu ayam dan potongan
ayam nyalakan mesin pemasak nasi. |
Kelompok 5
1. Andri Hermawan (23530210)2. Dina Septiana (23530265)
3. Ema Tri Rejeki (23530276)
4. Nabila Atika (23530364)
5. Rini Maghfiroh (23530419)
Pertanyaan dan solusinya:
1. Bagaimana Computational Thinking membantu dalam mengelola waktu di kehidupan sehari-hari?
Dalam mengelola waktu, penerapan Computational Thinking dengan melakukan dekomposisi tugas-tugas harian menjadi langkah-langkah yang lebih kecil. Pengenalan pola digunakan untuk mengidentifikasi waktu-waktu paling produktif dalam sehari yang memungkinkan untuk mengatur prioritas tugas sesuai dengan pola produktivitas. Abstraksi membantu menyederhanakan jadwal harian, membuang aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah, dan algoritma membantu merancang rutinitas yang efisien untuk meningkatkan efektivitas.
2. Menurut kelompok Anda, apakah CT dapat diterapkan pada muatan pelajaran di Sekolah Dasar?
Iya, bisa.
Misalnya penerapan CT pada muatan pelajaran matematika di sekolah dasar. Dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar, penerapan Computational Thinking dengan dekomposisi, memecah masalah matematika kompleks menjadi langkah-langkah yang lebih sederhana. Contohnya, saat mengajarkan penjumlahan dan pengurangan, guru dapat membimbing peseta didik untuk memecah masalah penjumlahan dan pengurangan dengan langkah-langkah yang lebih singkat dan jelas, hal ini dapat memudahkan mereka memahami dan menyelesaikan masalah.
3. Bagaimana Computational Thinking dapat diterapkan dalam kegiatan proyek atau eksperimen sains di Sekolah Dasar?
Peserta didik dapat menerapkan Computational Thinking dalam kegiatan proyek sains dengan melakukan dekomposisi eksperimen menjadi langkah-langkah yang lebih kecil, seperti merancang hipotesis, mengumpulkan data, dan membuat kesimpulan. Pengenalan pola bisa digunakan untuk mengidentifikasi tren dalam hasil eksperimen, sedangkan abstraksi membantu peserta didik menyederhanakan konsepkonsep ilmiah kompleks. Algoritma dapat diterapkan dalam merencanakan langkah-langkah eksperimen dengan urutan yang logis.
E. ELABORASI PEMAHAMAN (MENGAJUKAN PERTANYAAN)
1. Bagaimana cara menggunakan keterampilan dekomposisi, abstraksi, pengenalan pola, dan algoritma untuk memecahkan masalah?
2. Apa hal yang unik yang terdapat dalam CT?
F. KONEKSI ANTAR MATERI
1.
Tuliskan contoh-contoh hubungan CT dengan
kehidupan sehari-hari Anda!
2. Menurut pendapat Anda, dapatkah CT diterapkan pada mata pelajaran yang akan Anda ajar? Penerapan CT dapat dilakukan baik pada metode atau bentuk pengajaran, soal-soal, atau aktivitas lainnya di dalam kelas
Jawab:
1. Membuat
Rencana Belanja: Saat membuat rencana belanja, CT membantu dalam memecah
rencana menjadi kategori-kategori, mengidentifikasi pola diskon atau harga
terendah, dan mengembangkan algoritma untuk urutan langkah berbelanja.
2.
Menurut saya CT dapat diterapkan di jenjang
sekolah. Penerapan computational thinking (CT) dalam pembelajaran telah menjadi
topik penelitian yang signifikan. CT dapat diterapkan dalam berbagai mata
pelajaran, termasuk matematika, sains, dan bahasa. Sebagai contoh, dalam
pembelajaran matematika, CT membantu siswa dalam memecahkan masalah,
mengidentifikasi pola, dan mengembangkan algoritma. Selain itu, CT juga dapat
diterapkan dalam pembelajaran sains melalui aktivitas pemodelan dan pemecahan
masalah. Implementasi CT di sekolah dasar juga dikaitkan dengan capaian
pembelajaran dalam berbagai mata pelajaran, seperti matematika, IPA, dan IPS. Dalam
konteks pengajaran, CT dapat diintegrasikan dalam metode pengajaran, soal-soal,
dan aktivitas di kelas. Misalnya, siswa dapat dilatih dalam menyelesaikan
tantangan Bebras, menggunakan permainan, atau melakukan aktivitas fisik untuk
melatih CT mereka. Selain itu, CT juga dapat diterapkan dalam pembelajaran
melalui penggunaan algoritma dalam kegiatan sehari-hari, seperti merencanakan
belanjaan atau menentukan anggaran.
Dengan demikian, CT dapat diterapkan dalam berbagai mata pelajaran melalui berbagai metode pengajaran, soal-soal, dan aktivitas di kelas. Hal ini menunjukkan bahwa CT memiliki relevansi yang luas dalam konteks pembelajaran.
G. AKSI NYATA
1.
Apa harapan/target Anda dalam mengikuti mata
kuliah ini?
2.
Pemahaman baru apa yang Anda dapatkan setelah
mempelajari CT?
3.
Bagaimana pendapat Anda mengenai keberadaan CT
dalam kehidupan Anda?
4.
Bagaimana perasaan Anda setelah belajar mengenai
CT?
5.
Apa potensi kendala yang mungkin akan Anda alami
selama mengikuti kuliah ini? Jika ada, tindakan apa yang akan Anda lakukan
untuk mengantisipasinya?
Jawab :
1.
Dalam mengikuti mata kuliah Computational
Thinking (CT), harapan dan target yang ingin saya capai yaitu saya
dapat lebih memahami secara mendalam tentang konsep CT. Kemampuan untuk
membedakan kegiatan yang tetrmasuk ke dalam CT dan yang bukan, serta mengenali
konsep yang mungkin terjadi seputar CT di masyarakat. Selain itu, harapan juga
meliputi kemampuan untuk mengaplikasikan pola pikir CT dalam berbagai konteks,
termasuk dalam pembelajaran fisika atau mata pelajaran lainnya. Dengan
demikian, harapan dalam mengikuti mata kuliah CT meliputi pemahaman yang
mendalam, kemampuan aplikasi dalam berbagai konteks, dan manfaat yang
signifikan dalam proses pembelajaran.
2.
Setelah mempelajari computational thinking
(CT), pemahaman baru yang saya peroleh adalah bahwa CT merupakan cara berpikir
manusia, bukan hanya terkait dengan pemrograman komputer. Awalnya, saya mengira
CT hanya berkaitan dengan ilmu komputer dan pembuatan rumus-rumus, namun
setelah membaca berbagai referensi dari buku dan jurnal, saya menyadari bahwa
CT sebenarnya merupakan pendekatan pembelajaran yang melatih kita untuk
berpikir kritis dan logis. Siswa yang menguasai atau terbiasa dengan CT akan
lebih tangguh dalam menghadapi berbagai persoalan. Selain itu, saya juga
memahami bahwa CT meng-konseptualisasikan dan bukan hanya tentang pemrograman
komputer. CT berlaku untuk semua orang, di mana pun dan kapan pun, dan
merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang baru bagi saya.
3.
Keberadaan computational thinking (CT) dalam
kehidupan saya dianggap sangat penting, karena CT merupakan pendekatan
pembelajaran yang mampu melatih kita untuk berpikir secara terstruktur, kritis,
dan logis. CT tidak hanya terkait dengan pemrograman komputer, tetapi juga
berlaku untuk semua orang, di mana pun dan kapan pun. Saya percaya bahwa CT
dapat membantu saya dalam menyelesaikan berbagai persoalan sehari-hari secara
lebih efisien dan optimal.
4.
Setelah mempelajarai CT perasaan saya senang
dan tertarik untuk mempelajarinya lebih dalam lagi. Saya merasa bahwa CT ini
sangat penting dan berpengaruh bagi kehidupan saya dan masyarakat lain. dengan
menggunakan konsep CT kita jadi lebih kratif, kritis dan terstruktur dalam
berpikir. Saya merasa senang karena dapat belajar dan mendapatkan ilmu baru
mengenai CT ini. dengan menggunakan konsep CT permasalahan dapat diatasi dengan
lebih efektif dan efisien.
5. Potensi kendala yang mungkin akan saya alami selama mengikuti kuliah CT adalah kesulitan dalam memahami konsep-konsep yang kompleks atau mungkin kesulitan dalam mengaplikasikan pola pikir CT dalam konteks pembelajaran tertentu. Untuk mengantisipasi kendala tersebut, saya akan berusaha untuk lebih fokus dalam mempelajari konsep-konsep CT dan mencari sumber belajar tambahan yang dapat membantu saya memahami konsep tersebut dengan lebih baik. Selain itu, saya juga akan berusaha untuk mengaplikasikan pola pikir CT dalam berbagai konteks dan mencari bantuan dari dosen atau teman sekelas jika diperlukan.

Komentar
Posting Komentar